KISAH PENGALAMAN KU DI SMA



Nama lengkap saya Muhammad Zulfa Naufan, dan Open itu nama panggilan keren nya. (hee…dikitt^_~).Emm…..sedikit cerita…, tentang sejarah kenapa saya sampai bisa di panggil open sama teman-temam. Nama “open” itu sendiri mungkin nama yang sangat aneh alias sangar tapi keren juga,hee….^_~. Dulu sewaktu saya SMP kelas1 ada seorang guru bahasa inggris yang masih muda dan belum berkeluarga, cantik lagi….Waktu itu baru pertama kalinya guru itu masuk ke kelas saya. Dan seperti biasa-biasanya di awal-awal pertemuan perdana, kami melakukan perkenalan one by one. Karena berhubung waktu itu pelajarannya bahasa inggris, jadinya sebisa mungkin kita memperkenalkan diri dengan menggunkan bahasa inggis. Tak beberapa lama kemudian akhirnya giliran saya pun tiba, saya berusaha untuk mendapatkan simpatik dari sang guru tersebut dengan sikap saya yang polos dan lugu serta imoet-imoet ini (dulu,hee…….^_~). Karena saya itu termasuk siswa yang berasal dari desa nan jauh di sana dan masuk di SMP kota yaitu SMP N 1 Purworejo. Setelah di akhir perkenalan saya, tiba-tiba sang guru tersebut menanyakan kembali, “Oza tadi siapa panggilanmu??” tanya guru itu sambil penasaran kepada saya, ”Ofan buk” jawab saya tegas. ”Owh…ofan za, ofan…ofan….”lanjutnya guru itu sambil terbata-bata mengeja nama saya, dan akhirnya guru itu mengucapkan “ofen….open…??!!!tegasnya di depan kelas. Teman-teman yang mendengar kata itu semuaaaanya tertawa terbahak bahak, sambil sedikit menengoki ke wajah saya yang hanya bisa tersenyum dan tersipu malu….,hee…^_~.Nahh....sejak itu lah nama saya sering di panggilnya open sampai sekarang oleh teman-teman. Dari situ-lah saya berusaha untuk menjadi orang yang terbuka dan loyal sesuai dengan nama panggilan saya “OPEN”, selain itu juga, nama “OPEN” lebih mudah diingat oleh teman-teman karena mungkin sedikit unik,tapi keren………,hee…^_~.

OK…..Kita kembali ke pembahasan mengenai cerita suka…, duka…, lara…, bahagia…, kecewa…, lelah.., pegel.. linu.. dsb yang campur aduk dan yang pernah saya alami khususnya sewaktu saya duduk di bangku kayu SMA N 7 tercinta ini.

Dulu…sewaktu saya duduk di kelas XI, Alhamdulillah saya lumayan sedikit ada aktifitas atau amanah yang harus dilakukan di luar kelas. Gak tau kenapa semangat untuk itu muncul dengan sendirinya. Padahal..dulu sewaktu saya kelas X, saya pernah mengatakan pada diri saya sendiri bahwa saya tidak akan sibuk dan bercapek-capek ria mengikuti kegiatan atau organisasi di luar kelas, karena saya akan lebih memfokuskan diri dengan belajar di atas bangku kayu dalam kelas. Tetapi…..kenyataanya..,Allah berkehendak lain, berubah 720derajat dibagi 4, sehingga di waktu kelas XI itu hampir setiap hari saya jarang masuk ke kelas, sampai-sampai teman-teman kelas saya itu sering mengatakan sambil heran : “Pen…sing sekolah kie tas mu opo sing nduwe tas toww??”. ”Hee…..” jawab saya sambil tersenyum…^_~…

Bulan berganti bulan telah saya lewati begitu serasa cepat dan banyak sekali cobaan, masalah, konflik dsb. yang telah saya lewati, sampai akhirnya saya naik ke kelas XII dengan nilai yang pas-pas-an dan sedikit tertinggal pelajaran di dalam kelas. Di awal-awal kelas XII….,saya dan teman-teman yang aktif di luar kegiatan kelas sudah di wanti-wanti oleh wali kelas, guru BP bahkan sampai kepala sekolah, karena waktunya kelas XII itu harus di fokuskan untuk mempersiapkan ujian nasional yang semakin dekat. Akan tetapi karena mungkin sangking banyaknya kegiatan yang saya ikuti di luar sana, sehingga sampai akhir dari semester 1, baru bisa kelar semua urusan estafet kepengurusan dan macem sebagainya, bahkan….waktu itu malah saya sempat mengikuti lomba sampai Semarang selama 3 hari lama nya. Bayangkan…sudah kelas XII waktunya duduk tenang di kursi panas untuk persiapan ujian nasional, malah masih tetep saja seperti itu,hee…..,tetapi semua itu saya lakukan karena semata-mata mengharap RidhoNya dan itu merupakan suatu amanah dan tanggung jawab yang harus saya lakukan kepada semuanya.

Hari pun berganti hari dan Semester 2 pun tiba. Tinggal sebentar lagi saya harus berperang dalam melawan soal-soal yang sudah SIAP GRAK menghadang di depan sana. Dari pihak sekolah sudah memberikan pelayanan yang begitu banyak macam-nya dari TUC-TUC, Pengayaan dan macem sebagainya demi kelulusan kami semua. Hampir setiap hari, kami pulang dari sekolah sore, belum lagi adanya les di sana-sini, sore-malam dsb. Ditambahnya lagi saya waktu itu juga sedang menempuh pendidikan non formal di pondok pesantren yang bernama “Nurul Hidayah”, dan di sana juga adanya kegiatan sistem belajar mengajar seperti halnya sekolah-skolah biasa yang dilaksanakan malam hari sampai sekitar pukul setengah10 dan terkadang juga sampai jam 10 malam, sehingga saya harus bener-bener bisa membagi waktu antara jam sekolah dan pondok.

Al-hasil yang ada, di awal-awal menjelang mendekati (hari H) ujian itu, saya merasa sangat-sangat tertekan dengan banyak sekali pikiran di sana-sini dan juga dengan jam istirahat saya yang sangat kurang. Hampir setiap malam di akhir kegiatan pondok tadi, saya dan teman-teman kelas 3 yang seangkatan di pondok juga harus memikirkan perpisahan kelas3 atau yang disebut-nya dengan “Akhirussanah Kelas 3 Pondok Pesantren”, di situ kami harus memikirkan mulai dari hal yang paling kecil sampai hal yang berat, adanya anggaran dana, pengisi acara, peralatan, konsumsi dsb kami bahas bersama, dan waktu itu saya mendapat amanah untuk menjadi sie.acara dan sekretaris padahal di samping itu saya dan teman-teman semua juga harus memikirkan serta fokus pada ujian nasional yang tinggal beberapa hari lagi.

Pelaksanaan TUC-TUC yang dilaksanakan baik oleh pihak sekolah maupun dari pihak kabupaten itu pun semakin sering kami jalani, Al-hasil saya belum pernah sekali pun LULUS dari TUC-TUC tersebut. Bayangkan….sampai TUC yang terakhir pun saya belum lulus juga. Saya hanya mendapatkan nilai DO RE MI FA…….(3x.) Yahh…..karena mungkin sangking bodohnya diri saya ini sehingga sampai-sampai saya sering sekali mendapatkan bimbingan khusus baik dari Guru BP dan maupun dari wali kelas. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu adalah hanyalah tekanan, tekanan, beban yang begitu beraaaaat dan bagaikan sebuah siksaan batin yang tak kunjung berhenti. Belum lagi saya harus memikirkan mau kemana setelah lulus SMA ini.

Dari dulu sejak kecil, saya mempunyai cita-cita menjadi seorang pilot yang basisnya berbau bau dengan Militer gitu dech….. Gak tau kenapa setiap kali ada pesawat yang lewat di atas, saya selalu membayangkan bahwa saya-lah yang akan menerbangkan pesawat-pesawat berikutnya ,(khayalan tingkat tinggi jew…^_~, tapi gak ada yang nglarang kok,hee……,Mohon Do’anya aja za…^_^). Hal-hal itu lah yang selalu membayangi dan memotivasi dalam diri, sehingga setelah lulus dari SMA ini saya mempunyai keinginan bisa sekolah di sekolah-sekolah yang berbasis MILITER.

Berbagai sekolah atau akademia yang telah saya daftarkan waktu itu. Mulai dari Akademi Militer, Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan, Sekolah Tinggi Transportasi Darat, Sekolah Tinggi Pelayaran Indonesia, IPDN dan masih banyak lagi lainnya. Hampir sebagian besar pendaftarannya sebelum pelaksanaan ujian nasional, sehingga saya harus membagi waktu untuk persiapan ujian nasional dan persiapan ujian masuk sekolah-sekolah tersebut mulai dari persiapan fisik, ruhani, mental dsb. Dan untuk masuk ke sekolah-sekolah tersebut tidak cukup hanya tes 1kali atau 2kali saja, bahkan harus berkali-kali dan padahal sistem penyeleksiannya adalah sistem gugur, bagi yang lolos bisa melanjutkan tes-tes selanjutnya dan bagi yang tidak lolos hanya ucapan Selamat Tinggal, C-U bye-bye bagi kita.,hee…

Satu demi satu saya lakoni itu semua. Yang paling berkesan dan mungkin tidak kan pernah terlupakan adalah ketika pengumuman STTD (Sekolah Tinggi Transortasi Darat), sekolah ini yang berlokasi di Bekasi dan sekolah yang berbasis semi MILITER, semi Kedinasan dan sebutan dari siswa-siswinya adalah Taruna, serta menggunakan sistem Asrama. Waktu itu tahap pertama saya bisa lolos dan bisa untuk melanjutkan tahap-tahap selanjutnya, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan saya juga lolos seleksi tahap pertama di IPDN dan juga harus melanjutkan tahap-tahap berikutnya di sana, dan akhirnya waktu itu saya memutuskan untuk melanjutkan tahap berikutnya yang di Bekasi itu yaitu STTD.

Tahap demi tahap telah saya lewati sampai kurang lebih 5 atau 6 kali tes seleksi, mulai dari tertulis, psikotes, tes fisik, tes kecakapan, dan terakhir tes wawancara, dan itu pun dalam waktu yang berbeda-beda sehingga saya harus bolak-balik Bekasi-Purworejo. Waktu itu pun juga kalau tidak salah sebagian tes seleksi tadi masih dalam masa-masa krisis menjelang ujian nasional. Dan akhirnya pengumuman tes terakhir pun tiba, yang tersisa waktu itu sekitar 160an peserta dari sekian ratus atau bahkan ribu-an peserta dari berbagai penjuru Indonesia, dan akan di ambil sekitar 100an calon Taruna baru di STTD. Dan ternyata……….Allah berkehendak lain, ternyata belum jalan hidup saya untuk sekolah di sana.

Yahh…….begitulah……pupus sudah harapan untuk sekolah di sekolahan atau akademia yang berbasis MILITER. Mau bagaimana lagi harus tahun depan baru bisa mendaftarkan kembali.

Ujian Nasional-pun tiba, hari-hari yang penuh perjuangan dan yang harus saya lewati dengan penuh keoptimisan dan keyakinan yang ada, serta do’a orang tua yang selalu menyertai jalan nya perang itu. Akhirnya ke enam mata pelajaran yang di ujikan pun telah saya kerjakan dengan usaha semaksimal mungkin dan tentunya berkat bantuan yang di atas.

Setelah ujian selesai, yang ada dalam hati dan pikiran ini serasa sedikit plong bisa bernafas sejenak dengan nyaman dan tentram, karena sebelumnya udara yang sesegar ini yang saya rasakan sekarang berbeda dengan udara yang saya hirup sebelum ujian. Itu lah rasa-rasa bahagia yang saya rasakan waktu itu, tambah lagi Alhamdulillah saya bisa LULUS dari SMA N 7 ini meskipun dengan nilai yang pas-pas an sekali, hanya rata-rata (7 koma sekian….). Tetapi dengan hasil yang pas-pas an itu saya bangga karena hasil itu merupakan hasil pekerjaan saya sendiri dan tentunya bantuan yang di atas, bukanlah hasil dari dapatan atau short message(sms) pekerjaan dari orang lain. Maaf…di sini bukan maksud untuk menyingggung atau untuk menyindir siapa-siapa, karena waktu itu sedang booming-booming-nya bahwa penyebaran hasil ujian lewat sms itu tadi.

Setelah pengumuman itu pun tiba, saya mulai bingung kembali mau mendaftar kemana-lagi, karena jujur memang saya ini kurang begitu berminat dengan yang namanya kuliah, meskipun orang tua di rumah mewajibkan saya harus berkuliah entah dimana yang penting kuliah, sempat di suruh daftar ke UNY,UIN dsb juga tapi….mau gimana lagi orang yang namanya belum minat jadi za masih pikir-pikir kembali. Sampai akhirnya mau menjelang di awal-awal ajaran baru itu saya didesak harus mencari perkuliahan, tetapi yang ada waktu itu hanyalah tinggal kampus-kampus swasta. Awalnya saya mau mendaftar di STTA(Sekolah Tinggi Adi Sucipto) mengambil jurusan Teknik Penerbangan, tetapi setelah mendapatkan pertimbangan banyak hal akhirnya Amikom-lah tempat sandaran terakhir dari perjuangan untuk mencari perkuliahan saya ini. Karena sebelumnya saya mendapatkan informasi dari orang-orang dan media bahwa prediksi di tahun-tahun mendatang orang IT banyak sekali di butuhkan dalam segala hal, sehingga apa salahnya saya mencoba mengimbah ilmu di sana.

Selain ilmu duniawi yang saya tempuh di Amikom, saya juga menjadi salah satu santri dari Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta. Sehingga mengimbah ilmu akhirat pun saya lakoni, karena saya masih inget sekali pesan-pesan dari ustadz saya waktu di Pondok yang dulu, bahwa “Janganlah berhenti dalam mencari ilmu akhirat, tempuhlah ilmu akhirat dimanapun kau berada, karena di sanalah nanti kita semua akan hidup sebenarnya.”

Nahh….begitulah sedikit cerita perjalan hidup saya sehingga sampai sekarang ini. Harapan nya buat adik-adik yang InsyaAllah di Rahmati Allah, kerjakanlah ujian itu dengan penuh optimis, keyakinan diri dan jangan sampai lupa untuk mohon bantuan yang di atas dan juga do’a restu dari orang tua kalian, bukan-lah untuk minta bantuan jawaban dari pekerjaan teman baik itu via Handphone atupun yang lainnya. OK…

Adik-adik yang saya cintai dan yang mencintai saya,hee……^_~, Allah tidak akan melihat hasil dari urusan duniawi kalain, yang Allah lihat adalah seberapa jauh usaha kalian dalam menjalani itu semua.

Nilai ujian hanyalah tulisan tangan orang saja, kita bisa merubah semua nilai yang kita inginkan, tinggal datang saja bawa (Gulo Teh) ke tempat koreksi ujian, beres kan….. tapi bayangkan apakah kita tau seberapa besar atau kecilkah Allah menilai diri kita.

Dan adik-adik yang saya sayangi….., nilai bukanlah segala-galanya, nilai tidak menentukan kesuksesan kalian, bisa saja orang yang tidak lulus sekalipun bisa melebihi kesuksesan kalian yang lulus, tinggal bagaimana kalian menyikapi dari apa yang telah kalian dapatkan.

“Sukses bukanlah segalanya, karena sukses bukanlah suatu hasil. Akan tetapi sukses adalah proses menuju keberhasilan.”

Semangat adik-adik ku……, buat diri kalian menjadi orang yang berhasil, tidak hanya berhasil di mata orang tetapi berhasil di mata Allah SWT.

Sukses semua…..

Salam SUPER…..dan salam senyum hangat buat kalian semua….^_~

Terimakasih……..

Wallahu a’lam Bishshowab……

AKU is ME



Pada dasarnya manusia diciptakan di dunia ini adalah dalam bentuk yang sempurna sempurnya oleh Yang Maha Pencipta. Manusia di bekali dengan cipta rasa dan karsa. Ketiga hal tersebut tidak dimiliki oleh makhluk lainnya yang hidup di dunia ini. Saya dan Anda sebagai umat manusia sudah sepatutnya untuk mensyukuri apa yang telah ada ini dan untuk memanfaatkannya. Salah satunya untuk menjadi insan yang sukses dunia dan akhirat. Kesuksesan Anda itu tidak lain adalah berasal dari diri Anda itu sendiri. Anda tidak bisa meminjam, meminta bahkan mencuri dari kesuksesan orang lain. Semuanya tergantung pada keyakinan dan usaha Anda dalam menjalani hidup ini. Anda bisa belajar dan mencari tahu tentang kesuksesan orang lain.

Dengan hal tersebut akan timbul suatu imaginasi imaginasi baru untuk melakukan sesuatu hal demi kesuksesan diri Anda. Orang sukses adalah orang yang mau berbeda meskipun sedikit dari orang yang gagal. Oleh karena itu jika Anda ingin menjadi orang yang sukses maka rubahlah meskipun hanya sedikit demi sedikit dari apa yang kamu ketahui dari orang yang gagal.

Orang bijak pernah menulis
demikian: Amatilah pikiranmu, karena akan menjadi ucapanmu. Amatilah ucapanmu, karena akan menjadi tindakanmu. Amatilah tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu. Amatilah kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu. Amatilah karaktermu, karena akan menjadi nasibmu. Di atas semua itu, amatilah diri anda. Hanya mereka yang mengenal dirinya-lah yang akan mencapai ketenangan diri yang sesungguhnya. Anda tidak perlu menjadi orang lain untuk dapat membuat dunia menjadi berbeda.



Setiap orang punya cara sendiri - sendiri untuk mengubah dunia, karena setiap orang memiliki hasrat dan naluri di dalam dirinya. Bila hasrat yang ada dalam diri Anda adalah hasrat mencari arti hidup diri Anda, maka itulah hasrat sejati untuk mengubah dunia.

Oleh karena itu, mari saya mengajak kepada diri saya sendiri, Anda dan semuanya untuk merubah dunia ini menjadi dunia yang penuh cinta damai dan penuh dengan orang-orang yang mengerti arti hidup ini serta menjadi orang yang sukses+berhasil meraih dunia dan akhirat nanti.

PONDOK PESANTREN


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkgI-hg_IPO6XXPWCbvfmXrm9ypoCAAchE7NIIqGqUwtNbiTw26axaA7ect_dM1Id1i1P28ftlYGD_zjMG5bpobFjOvgs_Dkkgb6mfsa8rKRjUBd_5I1dom71iU1-aA9Ddp7zj2gdomDKa/s1600/pesantren-children-studying.jpg


Sekarang ini banyak orang tua yang berpikiran bahwa kehidupan di pondok pesantren itu akan membuat kolot, membuat menderita, dan membuat ketinggalan zaman bagi anak. Perlu di ketahui bahwa pondok pesantern itu di bagi menjadi dua yaitu pondok pesantern salafi dan pondok pesantren modern. Para ahli agama mengatakan bahwa pondok pesantren salafi itu adalah pondok pesantren yang benar-benar belajar dan menuntut ilmu hanya di pondok pesantren itu, sedangkan yang dikatakan modern adalah pondok pesantren yang santrinya itu belajar menuntut ilmu di pondok pesantren itu dan juga menuntut ilmu formal di luar pondok pesantren.

Pondok Pesantren Wahid Hasyim yang beralamatkan di Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta ini adalah salah satu contoh pondok pesantren yang modern. Santri santri yang berada di pondok pesantren itu sebagian besar bahkan hampir semua menuntut ilmu di luar pondok pesantren. Sebagian besar santri dari Pondok Pesantren Wahid Hasyim itu adalah para mahasiswa dari berbagai macam kampus yang terdapat di Yogyakarta ini.

Menurut salah satu santri di Pondok Pesantren ini mengatakan bahwa, “ Saya bahagia dan senang bisa hidup dan tinggal bersama teman-teman dalam satu atap yang mempunyai banyak sekali karakter yang berbeda beda.dan dari berbagai penjuru daerah yang ada di Indonesia ini”ujarnya. “Banyak sekali hal baru yang saya dapatkan di pondok pesantren ini, Awalnya saya merasa sangat kaget dan hampir tiap malam saya menangis dan tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena kamar tidur yang hanya berukuran 4x4 di huni oleh 7 anak yang masing masing juga membawa almari, sehingga bisa dibayangkan sendiri keadaannya di kamar, tapi sekarang semua itu saya jadikan sebuah pelajaran yang berharga dalam diri”,tambahnya lagi kata santri itu yang berasal dari kota Purworejo, Jawa Tengah.

“Kehidupan di pondok pesantren selain kita mendapatka ilmu agama juga kita mendapatkan ilmu sosial yang tidak akan bakal kita dapatkan di bangku bangku sekolah ataupun kampus manapun. Pentingnya menghargai teman dan persaudaraan yang dijalin selama di pondok pesantren akan menjadi indah dan kenangan yang mungkin tidak akan terlupakan dalam kehidupan saya. Saya yakin bahwa apa yang saya dapatkan di pondok pesantren ini akan bermanfaat bagi kehidupan saya kelak nanti”, tambahnya lagi.

Nah sekarang bagi orang tua yang mempunyai anak dan menginginkan anaknya itu menjadi orang yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, maka pondokkanlah anak tersebut. Karena anak adalah sebuah harta yang nanti kelak dewasa akan di petik buahnya dari semua yang telah anak tersebut jalani. Ibaratkan menanam sebuah benih buah mangga yang setiap hari disiram dan dipupuk, maka kelak nanti buah dari itu pun akan menjadi baik dan enak rasanya jika dinikmati.

CINTA




Cinta menurut saya adalah ungkapan hati yang tak bisa tersembunyi, selalu ada dalam hati setiap manusia. Semua orang membutuhkannya, baik itu tua, muda, anak-anak, bahkan sampai kapanpun cinta masih melekat di sudut hati manusia yang paling sempit sekalipun.

Saya tidak tahu bagaimana Allah menciptakan rasa cinta yang ada dalam hati ini, tetapi yang jelas saya sebagai makhluk yang diciptakanNya dengan wujud seorang manusia sudah sepantasnya bersyukur karena saya bisa menikmati adanya getaran cinta di dada di dalam hati.

Sungguh indah Allah menciptakan suatu perasaan yang diwarnai oleh cinta. Cinta memang indah bila kita sedang dimabuk kepayang olehnya, hati selalu rindu akan wajah manis sang jelita dan selalu terbayang wajah dan muka berseri-seri karena cinta.

Bagi saya cinta adalah perasaan ingin memiliki dan dimiliki serta melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing setiap manusia. Dengan adanya cinta maka hati akan terasa amat berharga, tak ada lagi kesepian, jauh dari mimpi buruk yang selalu datang menghantui setiap malam yang indah, tak akan ada lagi kata bosan hidup menyendiri bagai terkurung dalam jiwa yang tertutup kabut gelap. Jika cinta dapat berbicara maka dia akan mengatakan sejujurnya pada yang dicintai, sayangnya cinta tak dapat bicara, namun dia pandai mencari saat yang tepat untuk mengatakan tanpa harus ragu dan malu. Karena dengan cinta bisa merubah segalanya.

Dia juga pandai menyembunyikan rasa itu serapat mungkin sampai tak ada orang yang tahu kalau sesungguhnya ia sedang mencintai. Dia juga yang akan menutup lembaran kisah cinta yang telah dibuatnya, baik yang menyakitkan atau menyenangkan.

Cinta tetaplah cinta, suatu perasaan dimana manusia ingin memiliki cinta dari hati yang lain. Sangatlah manusiawi kalau saya ingin memiliki arti sebuah cinta yang sebenarnya. Arti sebuah cinta sejati, tulus adanya, jujur dan saling mengerti dengan apa yang dimilikinya. Jika seseorang sudah meletakkan itu semua di hatinya maka yang akan tumbuh adalah cinta suci yang bersumber dari adanya rasa saling mengerti dan memahami.

Saya tidak mencari cinta sesaat yang dengan sendirinya akan hilang tanpa sebab, hanya karena satu kesalahan ringan yang mungkin masih bisa dimaafkan. Saya takut cinta sesaat itu akan membawa saya ke lembah mengerikan yang tak berujung.

Oleh karena itu sesuai denga usia saya, saya seperti baru pertama kali merasakan adanya cinta di dalam hati. Saya bersyukur sekali karena saya bisa merasakan yang namanya cinta